Kala sepi ia termenung
Ratapi bulan dengan hampa
Ia bagaikan bunga
Berdoa akan datangnya mendung
Lama sudah ku padang
Kala itu mata bercukap
Duhai serangga yang hinggap
Tak kah kau rasakan pahit pada sari bunga itu yang telah kau hinggapi
Keharuman nan kecantikannya
Tak mampu menggoda sang waktu Dengan anggun gemulai tubuhmu Terbendung sejuta air matanya
Kala itu kudapati tanda tanya Mengapa tiada asuh untukmu, atau kau yang membisu
Dengan kidungmu kau berkata
Telah kurasa semua ini, dan kuharapkan cukup aku yang rasakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar