Senin, 21 Desember 2015

Raga Tanpa Jiwa

Hadirnya raga tanpa jiwa
Membelenggu nirwana
Mencoba bertahan bukan jawaban
Kebimbangan mengasah derita

Jeratan nafsu menepiskan kalbu
Berlari tanpa arah
Buahkan kealpaan
Kekecewaan membius keyakinan

Waktu terus berjalan
Memperdaya kehidupan fana
Hiraukan keabadian
Mendapati karma

Jumat, 18 Desember 2015

Jika anda ingin berbagi puisi

Sebelumnya saya akan berbagi kata kata yang mungkin bermanfaat untuk anda, insyaallah dan kuharap begitu :D

"Jika kamu punya suatu karya, janganlah berkecil hati, janganlah sekali kali memandang remeh ciptaanmu. Tunjukkan dengan bangga, dan gentarkan dunia dengan karyamu"

Sekarang, bagi anda yang berkenan membagikan karya sastra anda pada blog saya. Anda cukup mengirm karya anda pada akun" saya :
• Email : uamdonal@gmail.com
• Facebook : bulexsboys
• BBM : 552E3B78

Demikian dari saya. Mohon maaf bila ada salah, dan jangan lupa kata" saya yg sudah saya bagikan untuk anda semua.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Bunga Sulung

Kala sepi ia termenung
Ratapi bulan dengan hampa
Ia bagaikan bunga
Berdoa akan datangnya mendung

Lama sudah ku padang
Kala itu mata bercukap
Duhai serangga yang hinggap
Tak kah kau rasakan pahit pada sari bunga itu yang telah kau hinggapi

Keharuman nan kecantikannya
Tak mampu menggoda sang waktu Dengan anggun gemulai tubuhmu Terbendung sejuta air matanya

Kala itu kudapati tanda tanya Mengapa tiada asuh untukmu, atau kau yang membisu
Dengan kidungmu kau berkata
Telah kurasa semua ini, dan kuharapkan cukup aku yang rasakan

Rabu, 16 Desember 2015

Hipotimia

Kala rembulan menjulang
Batinmu menetaskan pilu Gejolakmu memuncak diatas galangan
Sajak kaki cipta haru

Kau meratap gunda
Kakimu tersayat kau paksa Gemilang malam malam
Acuh padamu, hidup kelam

Syahdu menjalar
Menyandra nirwana
Digulung angan nan cita
Mimpi memudar Jingga, makin gelap

Beribu rindu kalbu
Sejuta tanya tuk mentari
Siang, keringkah kau dapati jiwa ini?
Kidung, tidak kah rindukanku?

Buah Sang Durjana

Ku jemu
Ku sedih
Ku merana
Ku lelah

Setiap detik datang
Seribu angan sejuta harapan
Kurasa berat tuk jalani
Kurasa lelah menghampiri

Saat bimbang melebihi kesakitan Sedih sendu dan pilu merasuk di hati
Jawaban tak juga kudapati
Hasutan datang, ku tinggikan khayalan

Ku lelehkan semua bersama buah durjana
Sadar kudapati hanya kesenangan semu
Tak pandang konsekuensi Akibatnya batin dan nuraniku tersiksa

Harapanku Kecewa

Bulan yang sepi
Dan dinginnya sang bayu
Ku merenungi
Apapun yang telah lalu

Malam yang semakin dingin
Membekukan hati
Jiwa dan raga mulai rentah
Memikul sejuta tanda tanya

Alunan kaki menyusuri malam
Dengan harap mencari semua jawaban
Hingga malam tergantikan pagi
Lelah dan kecewalah kudapati

Terbuai Keserakahan

Kau dewi yang naungiku saat ini
Bisakah kau cipta syahdu untuk ku
Meski ku berkenakan keserakahan
Korbankan kasih tuk kenikmatan

Pagi yang membisu
Membiaskan nurani
Diri yang terbuai nafsu
Membakar jati diri sampai hati

Jiwa telah lama layu
Raga pun kian merentah
Dengan apa kesadaran jumpai ku
Jika tetap atas kenyataan ku terpaksa

Mentari telah tiba
Perlahan cahya melumpuh
Terdiam ku merenungi semuanya
Berdo'a lalu ku buka lagi mimpiku

Sabtu, 05 Desember 2015

Hasil Para Retorika

Tiada fajar terus menjulang
Kesadaran kini terbuang
Apalah sejatinya kita disini
Mengapa saling mencaci

Dimananya kita melihat sesama?
Apakah sudah seharusnya?
Bukankah kita tak perlu menyulut keadilan
Tak kah kau rasa telah menyiksa batin

Tiada jemu telinga mendengar fitnah
Sudah lama dan harusnya ku bagaimana?
Berlaripun tiada arti
Hingga ku berfikir lebih baik ku tersisih

Surya Bagai Cambuk

Begitu cepat malam berlalu
Tergantikan oleh sang surya
Hanyutlah syahdu yang baru tercipta
Sadarkanku, tawarkan kehidupan bagai cambuk

   Suara detak jantung mulai lepas batas
   Bercampurkan kebimbangan
   Menjerat nurani dengan besi besi panas
   Bagai laut yang terwarnai oleh birunya awan

Hanya kesepian yang memanjakan
Bersama menantikan pagi
Tanpa sadar makin ku terlena
Makin ku tersisi, kini ku sahabat sejati sepi